Bilal dan Wahsyi

by - May 14, 2020



Bilal dan Wahsyi. Sama-sama budak, tapi punya mental yg jauh berbeda. Bilal, budak yg punya integritas dan dedikasi pada keyakinannya. Merasa cukup dan terbuka hati dan juga pikirannya.

Wahsyi, budak yg sangat kuat. Yg selalu berorientasi pada kekurangan. Selalu merasa terbelenggu dgn kondisinya sbg budak. Kelak, Wahsyi akan dibebaskan oleh tuannya, namun, tetap saja, iya akan tetap menjadi budak pikirannya yg sempit.

Bilal, bisa jadi kamu atau aku. Atau mungkin sebaliknya, akulah Wahsyi atau kamu yg Wahsyi.

Sudah sejak jaman Rasulullah SAW, mental manusia menentukan akan jadi apa dan bagaimana seseorang menjalani hidup.

Sebagian dari kita merasa cukup, berserah pada keyakinan hakiki, sehingga timbul syukur yg teramat besar pada sang empunya hidup. Hidup dijalani dgn mantap, tak oleng, apalagi lupa daratan.

Sebagian dari kita seringkali merasa terkungkung dgn keterbatasan. Merasa kurang, merasa diri tak berharga, useless, tak punya pencapaian, pun bila ada pencapaian tak dilihat apalagi disyukuri. Yg demikian jadi budak pemikirannya sendiri. Tak pernah rasa tenang, lelah mengutuki nasib.

Bilal bisa jadi kamu atau aku. Kamu atau aku bisa jadi Wahsyi. Keduanya ada. Nyata. Tak pandang bulu, tak pandang budaya, tapi mungkin pandang umur.

Kalau kamu Bilal, tetaplah begitu. Kamu sdh merdeka. Pikiranmu damai, perasaanmu lapang merasai penuhnya nikmat hidup.

Kalau kamu Wahsyi, tenang. Beri jeda pada dirimu untuk biarkan sedikit saja rasa syukurmu hadir dalam diri yg kosong tak ada isi. Kelak, kalau kamu berserah dan tak lagi bolak balik melihat keburukan, kamu akan merasai gembira atas dirimu sendiri.

Kamu dan aku, bisa jadi adalah Bilal. Wahsyi, bisa jadi kamu dan aku.

Terserah pada pilihanmu yang mana yang menguntungkan hidupmu kini dan nanti.

You May Also Like

0 comments